Sejarah

Nias merupakan salah satu wilayah termiskin di Indonesia, dari 33 Kabupaten/ Kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, 4 Kabupaten dan 1 kota berada di Pulau Nias dengan populasi 763.410 jiwa (berdasarkan sensus 2014).

 

Pada bulan Desember 2014, bencana Tsunami melanda Aceh, yang menyebabkan sedikit kerusakan di Pulau Nias. Akan tetapi, gempa bumi 28 Maret 2005 telah menyebabkan kerusakan menyeluruh dan merata di Pulau Nias, menghancurkan ribuan rumah, bangunan, rumah sakit, pelabuhan dan pusat perdagangan. Akibat dari gempa, 54% populasi kehilangan tempat tinggal dengan kerugian total mencapai 382 juta dolar. Angka kematian setelah gempa setidaknya seribu orang dan juga banyak mengalami luka serius.

Untuk merespon kerusakan hebat tersebut, Caritas Internasionalist (termasuk Caritas Italiana, Caritas Austria, Caritas Bozen, CRS, Trocaire, Caritas Australia) mulai menyediakan bantuan kemanusiaan di Nias. Karena besarnya permasalah dan perlunya solusi yang berkelanjutan, Keuskupan memutuskan untuk membentuk Caritas Keuskupan Sibolga. Hasilnya, Caritas Sibolga membuka kantor di Gunungsitoli pada bulan Juli 2005.

Pada bulan Desember 2009, Caritas Keuskupan Sibolga (CKS) berdiri sebagai sebuah lembaga di bawah Keuskupan Sibolga. Setelah lima tahun berdiri, CKS saat ini bertransformasi dari lembaga pemberi bantuan tanggap darurat menjadi lembaga pengembangan masyarakat jangka panjang yang berupaya menjawab kebutuhan masyarakat yang ada di wilayah Keuskupan Sibolga.

Visi CKS adalah memerangi kemiskinan melalui usaha dari semua pihak dalam segala bentuk dan cara sehingga hak-hak azasi manusia hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan pekerjaan, hak untuk mendapatkan pangan, hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, bisa dijaminkan kepada setiap orang.

Untuk mengenal lebih jauh lagi sejarah dan karya CKS di komunitas dapat melihat film dokumenter durasi 17 menit berjudul CKS – Antara Iman dan Perbuatan, yang menggambarkan 9 tahun karya pelayanan CKS di Pulau Nias dan Tapanuli Tengah.