Membangun Resiliensi Komunitas

Proyek ketangguhan (resiliensi) komunitas menyasar tingkat kecamatan di wilayah Keuskupan Sibolga.

Kecamatan tersebut berada di wilayah pedesaan, dimana mata pencaharian utama masyarakatnya adalah berkebun karet. Karena lokasi yang terpencil dan kurangnya pengetahuan, ketrampilan dan sumber daya, banyak kebun karet tidak memberikan penghasilan yang cukup karena teknik berkebun karet masih tradisional.

30 tahun terakhir, pekerbunan kelapa sawit di Nias berkembang dengan cepat

Dikendalikan oleh korporasi setara dengan pemerintah, bibit kelapa sawit dan pupuk kimia didistribusikan kepada petani secara gratis sebagai taktik untuk mengubah tanah di desa dari persawahan dan perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit. Hal ini telah menyebabkan isu seputar kepemilikan lahan dan keamanan karena banyak petani telah kehilangan lahan pertaniannya dan mata pencahariannya.

Untuk membantu petani tersebut dengan cara-cara yang menyeluruh dan berkelanjutan, Caritas Keuskupan Sibolga memiliki beberapa komponen intervensi meliputi:

  • Peremajaan karet dan perkebunan
  • Promosi tanaman muda dan pembuatan kebun keluarga (kacang panjang, cabe, terung, sawi) untuk meningkatkan nutrisi keluarga
  • Pemberian vaksin dan vitamin, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat terhadap penyakit babi, pencegahan dan perlindungan
  • Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan karet okulasi dan teknik perkebunan karet melalui sekolah lapang, pelatihan, dan pendampingan keluarga.
  • Integrasi isu Pengurangan Risiko Bencana, Promosi Kesehatan dan Promosi Gender, untuk memastikan pendekatan menyeluruh digunakan dalam proses pengembangan resiliensi.
  • Membangun jaringan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Selatan dan Pemerintah Tapanuli Tengah, supaya masyarakat yang tinggal di tempat terpencil dan lebih mudah menjangkau layanan kesehatan.
  • Penguatan Organisasi Masyarakat untuk mempromosikan resiliensi, jaringan pendukung dan keberlanjutan.

Proyek proyek ini telah memberi manfaat kepada 160 rumah tangga yang tersebar di 8 komunitas.

Mekanisme dana bergulir telah diterapkan, dimana petani dapat mengajukan pinjaman mikro. Pinjaman ini dibayar kembali dari waktu ke waktu, dan didistribusikan kembali kepada petani lainnya di wilayah yang membutuhkan bantuan keuangan.